Ditulis Oleh: Khairil Amin
[Alumni PP Muwahidun Angkatan V | Mahasiswa Program Ekonomi Syari'ah 4 LIPIA]
Mungkin pertanyaan tersebut pernah terdengar oleh kita. Ya, jawabannya adalah bapak Adam Smith, seorang ekonom barat yang teori-teorinya dipakai sampai sekarang. Tapi, tahukah Anda dengan orang-orang jauh sebelum Adam Smith? Mari kita tengok mereka yang lebih berjasa bahkan yang pantas mendapat gelar bapak ekonomi.
1. Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam Al-Harawi Al-Azadi Al-Baghdadi
Abu Ubaid merupakan seorang ahli hukum, ahli ekonomi Islam, dan ahli bahasa Arab (ahli nahwu). Beberapa literatur yang ada mengatakan beliau hidup semasa Daulah Abbasiyah mulai dari Khalifah al Mahdi (158/775 M).
Abu Ubaid, yang bernama lengkap Al-Qasim bin Sallam bin Miskin bin Zaid Al-Harawi Al-Azadi Al-Baghdadi, lahir di Bahrah, Provinsi Khurasan, sebelah barat Laut Afganistan, pada tahun 154 Hijriah. Ayah Abu Ubaid berasal dari Byzantium. Ia menuntut ilmu di kotanya hingga berumur 20 tahun. Lalu ia menuntut ilmu di berbagai tempat, yaitu Kota Kufrah, Basrah, dan Baghdad. Di tempat-tempat menimba ilmu itu, ia mempelajari tata bahasa Arab, qirâ’ah, tafsir, hadis, dan fikih. Abu Ubaid pernah diangkat menjadi Hakim di Tarsus oleh Gubernur Thugur di masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rashid pada tahun 192 H. Ia banyak menangani berbagai kasus pertanahan dan perpajakan selama berada di Tarsus.
Sebagai seorang ahli ekonomi islam, Abu Ubaid telah merumuskan banyak hal tentang kaidah-kaidah ekonomi Islam dalam karya-karyanya. Abu Bakar bin Al-Anbari menyatakan, Abu Ubaid membagi malamnya pada 3 bagian, 1/3 nya untuk tidur, 1/3 nya untuk shalat malam dan 1/3 nya untuk mengarang. Menurut tanggapan Abu Ubaid, satu hari mengarang itu lebih utama baginya dari pada menggoreskan pedang di jalan Allah. Banyak ekonom Islam yang menggunakan temuan dan anggapan yang dipaparkan oleh Abu Ubaid sebagai bahan referensi karya-karya ekonomi Islamnya. Bahkan, banyak orang yang menyatakan bahwa bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith, juga banyak dipengaruhi karya Abu Ubaid dalam perumusan karya ekonomi kapitalisnya. Salah satu karya Abu Ubaid yang paling terkenal dalam bidang ekonomi ialah Kitab Al-Amwal, yaitu kitab yang membahas tentang keuangan negara dalam Islam.
Kitab Al-Amwal secara komprehensif membahas tentang sistem keuangan publik Islam terutama pada bidang administrasi pemerintahan. Buku ini juga memuat sejarah ekonomi Islam selama dua abad pertama hijriyah dan merupakan sebuah ringkasan tradisi Islam asli dari Nabi, sahabat, dan para pengikutnya mengenai permasalahan ekonomi. Abu Ubaid, dalam Kitab al-Amwal, banyak mengutip pandangan dan perlakuan ekonomi dari imam dan ulama terdahulu. Ia sering mengutip pandangan Malik ibn Anas dan pandangan sebagian besar ulama madzhab Syafi’i lainnya, dan juga mengutip beberapa ijtihad Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad ibn al Hasan asy-Syaibani.
Beberapa orang meyakini bahwa Adam Smith dalam bukunya yang legendaris, The Wealth of Nations, banyak dipengaruhi kitab Al-Amwal. Arti kata Al-Amwal sama dengan arti kata The Wealth, yaitu kekayaan.
2. Ibnu Khaldun
Ekonom Muslim dari Tunisia ini bernama lengkap Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadhrami al-Isybili, atau lebih dikenal dengan nama Abdurrahman bin Khaldun al-Hadrami. Beliau lahir di Tunis pada tanggal 27 Mei 1332 M (1 Ramadhan 732H), dan wafat di Kairo pada tanggal 19 Maret 1406 M (25 Ramadhan 808H).
Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, beliau sudah menghafal al-Qur’an dan ilmu tajwid. Dasar pendidikan al-Qur’an yang diterapkan oleh ayahnya telah menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam dan haus akan ilmu lainnya. Maka dari itu, beliau juga giat menimba ilmu agama, bahasa, logika, filsafat, hingga fisika dan matematika. Beliau belajar beragam ilmu tersebut dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Dan kini, setelah lebih dari enam abad lamanya, beliau dikenal sebagai sejarawan, ekonom, dan sosiolog besar dengan begitu banyak karya monumental dan menjadi rujukan para ilmuwan dunia, salah satunya adalah Muqaddimah.
Di bidang ekonomi, Ibnu Khaldun sudah mencetuskan berbagai macam teori, jauh sebelum lahirnya para ekonom Barat seperti Adam Smith dan David Ricardo. Teori-teori yang beliau temukan merupakan hasil pemikiran yang lahir dari hasil pengamatannya terhadap berbagai fenomena masyarakat, kemudian dipadukan dengan analisis yang tajam.
Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun telah merumuskan tiga aspek yang mendasari ekonomi, yaitu:
a. Keuntungan merupakan bagian dari pendapatan.
b. Komoditas dihargai oleh usaha tenaga kerja untuk menghasilkannya.
c. Keuntungan dan pendapatan diperoleh seseorang akibat usaha atau keterampilannya.
Dengan semua teori empirisnya, Ibnu Khaldun tercatat sebagai ekonom pertama yang secara sistematis menganalisa fungsi ekonomi, pentingnya teknologi, dan perdagangan ke luar negeri (ekspor), sehingga negara bisa mendapatkan surplus ekonomi. Beliau pun merumuskan bahwa pemerintah seharusnya memungut pajak yang rendah dan mendukung terciptanya lapangan kerja baru sebagai peningkatan produksi dan pendapatan, untuk mengatasi resesi ekonomi negara.
Nah, itulah beberapa orang yang berjasa dalam bidang ekonomi menurut pandangan Islam. Setidaknya kita bisa memanfaatkan jerih payah mereka dan senantiasa melanjutkan perjuangan mereka. Karena tanpa usaha mereka kita tidak akan bisa merasakan betapa indahnya Islam dalam bidang ekonomi. Semoga Allah ta'ala membalas jasa-jasa mereka dengan sebaik-baiknya balasan.
Allahu ta'ala a'lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar