Ditulis oleh: Haidar Maulana Malik Azizzi
[Alumni PP Muwahidun Angkatan X | Mahasiswa Program I’dad Lughowi IIPIA]
Bismillah.
Iman manusia tidak selamanya di atas. Kadang naik dan kadang turun. Saat iman naik, ringan untuk beribadah, berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan berbagai ibadah lainnya. Sebaliknya, saat iman kendor badan rasanya malas untuk beribadah, hati terpaut dengan dunia, tidak bisa merasakan manis, dan lezatnya ibadah dan persaudaraan, ringan untuk bermaksiat dan yang lainnya.
Rasulullah Shallahu alaihi wassalam bersabda dalam sebuah hadist;
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Dan setiap semangat ada futurnya. Barangsiapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad, 2: 188).
Futur adalah suatu penyakit yang dapat menimpa siapa saja, bahkan termasuk orang-orang shalih, penuntut ilmu, dan para aktifis. Futur yang paling ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah rajin melakukan ibadah.
Orang yang sedang futur mengalami penurunan kuantitas dan kualitas amal shalih, atau mengalami kemerosotan keimanan maupun keislamannya. Sendi-sendi hatinya mengendur sehingga berdampak pada turunnya stamina ruhiyah, dan lebih jauh lagi hal ini mengakibatkan dirinya terjauh dari amal kebaikan dan anjlok produktivitas amal shalihnya. Tanda-tandanya adalah munculnya sifat malas, menunda-nunda, berlambat-lambat, dan yang paling buruk adalah berhenti dari amal dakwah.
Ciri-cirinya
Seseorang terkena penyakit futur akan merasakan hati yang keras dan gersang serta malas beribadah. Bacaan Al-Qur’an dan juga ceramah-ceramah tidak bisa menggugah hatinya. Datangnya kematian dari orang-orang disekitarnya tidak pernah bisa mengambil pelajaran. Hati mereka seperti batu dan bahkan lebih keras lagi. Semua ini disebabkan dosa yang telah menutupi hati sehingga hilang kepekaan dan mengeras.
Padahal hati seorang mukmin adalah hati yang lembut, peka terhadap peringatan dan tersentuh dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al Anfal: 2).
Terapi yang dapat menjauhkan seseorang dari sifat futur antara lain;
1. Jauhi kemaksiatan.
2. Tekun mengamalkan amalan siang dan malam.
3. Menjauhi hal-hal yang berlebihan. Firman Allah:
فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 16)
4. Doa. Seperti doa yang telah Rasulullah Shallahu ailihi wassalam ajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).
Allahu a'lam bishowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar