Ditulis oleh: M Iqbal Fadlly (Alumni PP Muwahidun-Pati || Mahasiswa prodi Takmiliy LIPIA)
Hidup itu penuh lika-liku, kadang suka kadang duka. Di dunia, tidaklah suatu kebahagiaan itu kekal, begitu juga derita. Bahagia pun tak pilih kasih, tak hanya hak bagi mereka yang punya harta, bukan hanya otoritas yang hanya dimiliki mereka yang berpasangan, tapi semuanya punya hak untuk bahagia, baik mereka yang lagi di akhir bulan, yang masih jomblo ataupun mereka yang orang lain menganggapnya menderita.
Berbicara soal kebahagiaan, menurutku ini berhubungan dengan sikap. Bukan soal kuantitas nikmat yang diterima, ataupun derita yang menimpa. Mau contoh? Banyak, coba cari story Nabi Ayub, atau Fir'aun, atau bisa juga di kisah-kisah FTV yang sering ditonton di rumah. Jadi intinya, bahagia berkaitan dengan "sikap".
Dalam muqoddimah kitab Qowaidul Arba', Syekh Muhammad bin Abdul Wahab berdoa:
أن يجعلك إذا أعطي شكر، و إذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة
Yeps, inilah kunci kebahagiaan itu: Pertama, jika diberi bersyukur. Kedua, jika diuji bersabar, dan ketiga, jika berbuat dosa, segera beristighfar.
Hmm.. simpel kan? Iya memang simpel, cuma kita saja yang membuat hidup ini ribet. Dan kita perhatikan lagi, doa ini pun selaras dengan sabda Nabi:
عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ
"Sungguh ajaib dalam urusan orang mukmin! Sesungguhnya setiap urusannya baginya ada kebaikan dan perkara ini tidak berlaku melainkan kepada orang mukmin. Sekiranya dia diberi dengan sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur maka kebaikan baginya. Dan sekiranya apabila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar maka kebaikan baginya."
Nah loh.. makanya aku bilang, bahagia itu soal sikap. Masih mau ngeyel? Mungkin dari pembaca akan berkata, "ente mah mudah omong doang bal." Subhanallah... bukankah Allah tidak membebani seseorang melebihi batas kemampuannya? Masih mau ngeyel lagi?
Sebenarnya ketika kita ngaji itu, sekedar ngaji tanpa ada keimanan di setiap makna tiap ayat, po piye to (atau bagaimana)? Kalo kita mengaku beriman, harus siap diuji. Anbiya (nabi) diuji, awliya (wali) diuji, shodiqiin diuji, lah sedangkan kita? Ya pastinya tetap diuji, namun semua sesuai kadarnya. Setiap ujian cukup kita lalui dengan sabar, kalau dikasih rizki ya, kita harus bersyukur.
Musibah itu nikmat bro, jika itu membuat kita dekat dengan Allah, justru nikmat itu musibah kalo malah buat kita lalai. So, inti bahagia itu tergantung bagaimana kita menyikapi keadaan.
Ada salah seorang ulama berkata: "Aku berdoa kepada Allah untuk memenuhi hajatku, jika diberi aku akan bahagia satu kali, jika Allah belum memberi, aku bahagia sepuluh kali".
Secara sekilas kita akan mengatakan, "Mungkin editornya sedang ngantuk, kok bisa terbalik". Padahal dalam bukunya beliau melanjutkan, "karena yang pertama adalah ikhtiyarku (usaha), dan yang kedua adalah ikhtiyar Allah yang mengetahui hal-hal ghoib". MasyaAllah... Jamil jiddan (indah sekali), rasa percaya beliau kepada Allah. Tamparan bagi kita yang sering mengeluh, "Kenapa ini terjadi padaku?😭", Jawabannya simpel, Allah ya'lam, wa nahnu laa na'lam".
Bahagia itu Sikap. 😉
```Jangan Lupa Bahagia Teman``` 🤗
Hmm.. mungkin cukup ini dulu, kalo ada kurang itu dari aku pribadi.
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar