Index Labels

Mengenang Kembali Perisitiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

. . Tidak ada komentar:

Ditulis oleh : M Fahim Ahsani
Alhamdulillah segala puji bagi Allah Azza wa Jalla atas segala limpahan rahmat, taufiq, beserta hidayah-Nya sehingga kita dapat menjalani segala ibadah kita dengan ikhlas tanpa merasa berat sedikit pun. Sholawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga, sahabat, serta orang yang mengikuti serta menghidupkan sunnahnya hingga hari Kiamat kelak.
Sebagai seorang muslim yang beriman sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk mempelajari agama Islam secara kaffah (menyeluruh) terutama sejarah Islam. Mempelajari sejarah sendiri merupakan hal yang penting. Karena dengan mempelajari serta mendalami sejarah kita akan menemukan banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita jadikan suatu pengingat untuk menjalani kehidupan dimasa mendatang. Di dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi banyak kisah-kisah para Nabi dan orang orang zaman terdahulu yang dapat kita ambil pelajaran. Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit menilik kembali sejarah peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta apa saja yang beliau lewati pada malam tersebut.
Isra’ Mi’raj merupakan salah satu tanda kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dalam definisi etimologi isra’ berasal dari kata saara (سار)  yang berarti berjalan dimalam hari sedangkan dalam definisi terminologi isra’ berarti perjalanan Malaikat Jibril ‘alaihissalaam bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah menuju Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa), sebagaimana Firman Allah dalam Al quran surat Al Isra’: 1
سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya [1] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (1)
Lalu mi’raj (معرج) dalam bahasa Arab berarti alat yang untuk naik, sedangkan dalam definisi terminologi berarti naiknya Rasulullah ke langit bersama Jibril ‘alaihissalaam, sebagaimana firman Allah dalam surat An Najm: 13-18
وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ (١٣(عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ (١٤(عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ (١٥(إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦(مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧(لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ (١٨(
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu [dalam rupanya yang asli] pada waktu yang lain, (13) [yaitu] di Sidratil Muntaha [2]. (14) Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (15) [Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (16) Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampauinya. (17) Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda [kekuasaan] Tuhannya yang paling besar. (18)
Adapun Isra’ Mi’raj sendiri terjadi pada suatu malam setelah kenabian setahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah. Yang mana pada malam itu Nabi terjaga dengan ruh beserta jasadnya. Banyak peristiwa yang terjadi ketika Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah Nabi naik ke langit ke tujuh kemudian bertemu dengan para Nabi serta disyariatkannya sholat lima waktu kepada umat Islam. Untuk lebih jelasnya mari kita simak kisah Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut.
Hadits-hadits yang menerangkan peristiwa Isra’ Mi’raj adalah hadits-hadits yang mutawatir. Asy-Syaikh Al-Albaaniy didalam kitabnya, Al-Isra’ wal Mi’raj menyebutkan bahwa ada 16 sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini, diantaranya adalah Anas bin Maalik, Abu Dzar Al-Ghifaariy, Maalik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbaas, Jaabir bin ‘Abdillaah, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’b, Buraidah Al-Aslamiy, Hudzaifah bin Al-Yamaan, Syaddaad bin ‘Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’uud, ‘Aliy bin Abi Thaalib, ‘Umar bin Al-Khaththaab -radhiyallahu ‘anhum.
Telah menceritakan kepada kami Anas bin Maalik dari Malik bin Sha’sha’ah -radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan sadar”. Lalu Beliau menyebutkan, yaitu: “Ada seorang laki-laki diantara dua laki-laki yang datang kepadaku membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman, lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu dia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman. 
Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada bighal namun lebih besar dibanding keledai bernama Al-Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril ‘alaihissalaam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba”. Kemudian aku menemui Adam ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari anak keturunan dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit kedua lalu ditanyakan; “Siapakah ini?”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Isa dan Yahyaa ‘alaihimaassalam lalu keduanya berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan: “Siapakah ini?”. Jibril menjawab: “Jibril”. Ditanyakan lagi: “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab: “Muhammad”. Ditanyakan lagi: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Ya”. Maka dikatakan: “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Yuusuf ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata: “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan: “Siapakah ini?”. Jibril menjawab: “Jibril”. Ditanyakan lagi: “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab: “Muhammad”. Ditanyakan lagi: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Ya”. Maka dikatakan: “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Idriis ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata: “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan: “Siapakah ini?”. Jibril menjawab: “Jibril”. Ditanyakan lagi: “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab: “Muhammad”. Ditanyakan lagi: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Ya”. Maka dikatakan: “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Harun Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata: “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan: “Siapakah ini?”. Jibril menjawab: “Jibril”. Ditanyakan lagi: “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab: “Muhammad”. Ditanyakan lagi: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Ya”. Maka dikatakan: “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Kemudian aku menemui Muusaa ‘Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata: “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”. Ketika aku sudah selesai menemuinya, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan: “Mengapa kamu menangis?”. Muusaa menjawab: “Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku, ummatnya akan masuk surga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari ummatku”.
Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan: “Siapakah ini?”. Jibril menjawab: “Jibril”. Ditanyakan lagi: “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab: “Muhammad”. Ditanyakan lagi: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Ya”. Maka dikatakan: “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Kemudian aku menemui Ibraahiim ‘Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan Nabi”.
Kemudian aku ditampakkan Al-Baitul Ma’mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab: “Ini adalah Al-Baitul Ma’mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan sholat disana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat) tidak ada satupun dari mereka yang kembali”. Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran) “. Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab: “Adapun Bathinan berada di surga sedangkan Zhahiran adalah An-Nail dan Al-Furat (dua nama sungai di dunia)”.
Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh kali (dalam sehari). Aku menerimanya hingga aku datang pada Musa ‘Alaihissalam dan bertanya: “Apa yang telah diwajibkan?”. Aku jawab: “Aku diwajibkan shalat lima puluh kali”. Muusaa berkata: “Akulah orang yang lebih tahu tentang manusia daripada engkau. Aku sudah berusaha menangani Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Dan ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban shalat itu. Maka itu kembalilah kau kepada Rabbmu dan mintalah (keringanan) “. Maka aku meminta keringanan lalu Allah memberiku empat puluh kali shalat lalu aku menerimanya dan Musa kembali menasehati aku agar meminta keringanan lagi, kemudian kejadian berulang seperti itu (nasehat Musa) hingga dijadikan tiga puluh kali lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan dua puluh kali kemudian kejadian berulang lagi hingga menjadi sepuluh lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu lalu kembali aku menemui Muusaa dan dia bertanya: “Apa yang kamu dapatkan?”. Aku jawab: “Telah ditetapkan lima waktu”. Dia berkata seperti tadi lagi. Aku katakan: “Aku telah menerimanya dengan baik”. Tiba-tiba ada suara yang berseru: “Sungguh Aku telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan untuk hamba-hambaKu dan aku akan balas setiap satu kebaikan (shalat) dengan sepuluh balasan (pahala) “. [HR Al-Bukhaariy no. 2968, dan ini adalah lafazh Al-Bukhaariy].Didalam lafazh Muslim no. 234,
Dalam berbagai riwayat lain disebutkan juga bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat surga dan neraka  beserta orang orang di dalamnya. Dan ketika itu pula Nabi melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalaan dalam bentuk aslinya di mana Jibril ‘alaihissalaam mempunyai 600 sayap(1), Wallahua’lambisshowwab.
Sepulangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Mekkah beliau menceritakannya kepada penduduk Makkah dan ketika kaum Musyrikin mendengar hal tersebut mereka datang kepada Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu dan berkata: “ Wahai Abu Bakar, Apakah sahabatmu Muhammad memberitahumu bahwa ia telah melakukan perjalanan yang seharusnya ditempuh selama sebulan dan ia telah kembali dalam satu malam?” maka Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallau’anhu berkata: “ Jika beliau telah berkata maka itu sungguhlah benar, dan sesungguhnya kami bahkan akan membenarkan semua ucapannya yang lebih tidak masuk akal daripada ini, kami pasti akan membenarkan berita dari langit!”, dan oleh sebab ini Abu Bakar radhiyallahu’anhu dijuluki dengan gelar Ash Shiddiq. 
Dari Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diatas kita dapat mengambil banyak faedah diantaranya:
1.          Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
2.          Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
3.          Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)
Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan jasad beliau dalam keadaan terjaga.
4.          Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.(2)
5.          Sikap Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu dalam kisah diatas menunjukan bagaimana sikap keimanan yang kokoh seorang muslim terhadap apa saja yang dikhabarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila kita perhatikan dalam jawaban Abu Bakar radhiyallahu’anhu kepada orang orang musyrik Makkah, tidak ada keraguan Abu Bakar radhiyallahu’anhu sedikit pun kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di mana beliau dianggap gila tidak waras oleh orang-orang musyrik pada waktu itu karena kisahnya yang tidak masuk akal. Sikap seperti inilah yang harus senantiasa dipegang dengan kuat oleh seluruh orang mukmin. Yaitu senantiasa membenarkan apa saja yang datang dari Al Quran dan As Sunnah dengan tanpa meragukan dan mencoba menalar dengan akal manusia.
Semoga apa yang dikemukakan oleh penulis dapat memberikan manfaat dan menambah keimanan serta semangat pembaca dalam menuntut ilmu,
Wallahua’lambisshowwab.


*footnote
(1)         Kitab “Al-Burhan fi Masailil Iman” muqorror Tauhid Ponpes Muwahidun
(2)         http://muslim.or.id/9377-kisah-isra-miraj.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Popular Post