Index Labels

Iman Kepada Kitab Kitab Allah

. . Tidak ada komentar:
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah atas segala rahmat yang diberikan kepada seluruh makhluk-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Iman, atau dalam Bahasa Indonesia berarti keyakinan terhadap kitab Allah merupakan salah satu landasan dasar agama Islam yang wajib diyakini oleh setiap muslim, karena Allah Ta`ala berfirman :
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا)

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [Surat An-Nisa' 136]

Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau pun menjawab:
“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” (HR. Bukhari dan Muslim) .

Iman dengan kitab Allah berarti mempercayai dengan sepenuh hati dan diucapkan dengan lisan bahwa Allah Swt telah menurunkan kitab kepada Rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah kepada para makhluk-Nya agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata bahwa: “Kitab (biasa disebut dengan Kitab suci) adalah kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat untuk para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.” (lihat kitab Rasaail fil `Aqiidah karya Syaikh Utsaimin).

Iman dengan Kitab Allah mencakup 3 cakupan sebagai berikut :
1. Iman bahwasanya hanya Allah yang menurunkan kitab – kitab tersebut
2. Iman dengan nama - nama kitab yang telah kita ketahui sebagaimana telah Allah beritakan kepada kita. Seperti Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,
(وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ ◎ لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ)
[Surat Yasiin: 69 - 70]


Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS,

(إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [Surat Al-Ma'idah 44]


Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa AS,

(وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ)

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. [Surat Al-Ma'idah 46]

Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud AS,

(إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا)

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. [Surat An-Nisa' 163]

serta Suhuf yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim AS dan Musa AS

(إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ ◎ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ)

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. [Surat Al-A'la: 18 - 19]

3. Kitab kitab terdahulu terhapus dengan datangnya Al Quran

Seluruh kitab-kitab terdahulu telah termansukhkan (terhapus) oleh Al Quran Al ‘Adziim. Allah Ta’ala berfirman:

”وَأَنزَلْنَآإِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيه”

“Dan Kami telah tur unkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap kitab-kitab yang lain itu…” [ Surat Al Maidah: 48]

Maksud “muhaimin” adalah Al Quran sebagai hakim (yang memutuskan benar atau tidaknya, ed) apa yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. Berdasarkan hal ini, maka tidak dibolehkan mengamalkan hukum apapun dari hukum-hukum kitab terdahulu, kecuali yang benar dan diakui oleh Al Quran.  (Syarh Ushuulil Iman, hal 30-31)
Kitab-kitab terdahulu semuanya mansukh (dihapus) dengan turunnya Al Quran Al ‘Adziim yang telah Allah jamin keasliannya. Karena Al Quran akan tetap menjadi hujjah bagi semua makhluk sampai hari kiamat kelak. Dan sebagai konsekuensinya, tidak boleh berhukum dengan selain Al Quran dalam kondisi apapun. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah:
…فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً {59}
“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  [Surat An Nisaa’: 59]. (Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, hal 33)

Lalu, bagaimana dengan hukum dan keotentikan kitab agama samawi selain Al Quran?
Adapun kitab-kitab yang tersebar diantara Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) saat ini tidak layak dikatakan sebagai kitab yang  telah Allah SWT turunkan kepada nabi-Nya. Ini dikarenakan banyaknya ditemukan bukti yang menguatkan hal tersebut diantaranya adalah hal-hal berikut:
1. Kitab yang mereka (ahlul kitab) gunakan dan mereka anggap suci itu, bukanlah salinan dari manuskrip yang asli akan tetapi merupakan terjemahan dari pemikiran pendeta mereka.
2. Tidak adanya jalur penisbatan yang shohih dan terpercaya yang menghubungkan sejarah kitab tersebut kepada Rasul mereka. Karena Taurat ditulis berabad-abad setelah wafatnya Nabi Musa. Sedangkan Injil dinisbatkan kepada penulis dan pengarangnya, dan yang ada saat ini adalah pikihan dari injil yang berbagai macam.

3. Banyaknya manuskrip kitab-kitab mereka yang menunjukkan atas perubahan makna kitab-kitab tersebut, sebgaimana Allah berfirman:
(مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا)
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. [Surat An-Nisa' 46]

(.... أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ)
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. [Surat Al-Baqarah 85]

4. Aqidah yang terkandung di dalamnya adalah aqidah yang rusak dalam penggambaran Tuhan. Terdapat banyak kekurangan sifat-sifat ketuhanan di dalamnya, hal ini menunjukan bahwa kitab-kitab mereka di peroleh dari hasil karya tangan sendiri.

5. Tidak sedikit ditemukannya ayat-ayat yang saling bertentangan dalam kitab-kitab tersebut. Sehingga itu menjadi tanda ketidaksempurnaan sebuah penciptaan. Sedangkan Allah Maha Sempurna, tak ada kekurangan sedikitpun dari apa yang Ia ciptakan.

Fakta-fakta ini menyimpulkan bahwa kitab-kitab mereka sudah tidak bisa dipercaya dan tidak bisa dijadikan rujukan dalam beragama karena bukan lagi Wahyu Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Popular Post